Beberapa hari lalu, rekan Ipey Tobing di Jerman menuliskan cerita soal persahabatannya dengan Saur Marlina "Butet" Manurung. Meski Butet nan perkasa itu yang meski sealmamater di Unpad belum beruntung saya kenali itu. Membaca cerita Ipey, dan mengingat kembali apa yang pernah ditulis media soal Butet, semuanya menyimpul ke satu kata: pengabdian.
Pengabdian adalah senyum lebar seorang guru sekolah di dusun terpencil nun jauh di pedalaman; yang baginya cahya mata anak didiknya jauh lebih berharga ketimbang kilau mutiara; yang baginya tegur sapa muridnya jauh lebih merdu ketimbang gemerincing logam mulia.
Dan tadi siang saya kembali belajar mendefinisikan pengabdian. Pengabdian adalah ketangkasan seorang nenek tua dalam meladeni kuli-kuli kasar yang membeli nasi bungkus murah dagangannya; yang baginya kekuatan buruh-buruh muda itu jauh lebih penting ketimbang sosok renta tubuhnya sendiri; yang baginya penghidupan keluarga pekerja-pekerja keras itu lebih patut didahulukan ketimbang tempat tidurnya sendiri.
Pengabdian adalah permadani lembut yang melindungi langkah-langkah kita dari keras dan tajamnya kerikil kehidupan.
Prev: tertawalah demi kebersihan jiwa